Rabu, 02 Oktober 2013

Artikel Inspiratif




--- Wartawan Dilarang “Kentut” Sembarangan ---

Anti Angpao/anti suap ternyata sudah ada di Diri Dahlan Iskan semenjak memimpin Jawa Pos Grup, Ternyata Jawa Pos grup dari sebuah koran lokal yang oplahnya cukup dibawa satu becak sekarang menjadi media terbesar di Indonesia karena beritanya bagus. Tidak bermotif dan wartawanya pun di jejali paham bebas angpao.

Coba simak penuturan mantan wartawan Jawa Pos, Joko Intarto, yang sudah 20 tahun menjadi karyawan Dahlan Iskan.
-----------------------

Menjaga politik pemberitaan sebuah media, memang bukan main sulitnya. Godaannya begitu banyak. Nilainya juga sering begitu besarnya. Bagaimana media harus menyikapinya?
Heboh berita Rieke Dyah Pitaloka dalam sidang Wilfrida di situs “kompas.com” maupun harian “Kompas” hari ini (1/10) menyegarkan ingatan saya pada nasihat Dahlan Iskan tentang “kode etik jurnalistik” tahun 1991. Saat itu, Dahlan masih menjadi pemimpin redaksi.
“Politik pemberitaan media harus selalu dijaga. Jangan mengorbankan kepentingan pembaca,” kata Dahlan Iskan kepada wartawannya yang masih wartawan baru.
Bagaimana menjaga politik pemberitaan? “Pegang kode etik jurnalistik,” kata Dahlan dengan tegas. “Kode etik itu sudah mengajarkan, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh,” lanjut Dahlan.
Bagaimana kalau wartawan melanggar kode etik? “Wartawan yang melanggar kode etik jurnalistik tentu tidak layak menjadi wartawan lagi,” jawab Dahlan. “Dia lebih berbakat menjadi calo atau penodong,” lanjutnya. Kami semua tertawa mendengar ceplosannya.
Persoalannya, bagaimana cara mengetahui seorang wartawan sedang berpraktik sebagai calo atau penodong? Bukankah “angpao” diberikan kepada wartawan dengan diam-diam?
“Membuktikan pelanggaran kode etik jurnalistik itu sulitnya mirip menganalisa bau kentut. Tunggu kentutnya bunyi dan berbau, baru bisa ketahuan apa yang dimakan orang yang kentut itu,” jawab Dahlan. Kami lagi-lagi tertawa mendengar jawaban ganjil itu.
Sebuah berita positif yang ditulis wartawan, lanjut Dahlan, umumnya akan segera menimbulkan reaksi. Reaksi bisa positif, bisa negatif. Apalagi kalau beritanya negatif. Reaksinya positif dan negatifnya akan lebih cepat terdeteksi.
Sebuah berita yang tidak objektif pasti akan memunculkan reaksi dari para pembaca. Tetapi bila beritanya subjektif, reaksi hanya akan muncul dari sumber berita atau orang-orang yang disebut dalam pemberitaan itu.
“Redaktur tentu sulit mendeteksi motif dari sebuah berita yang diajukan wartawannya. Tapi kalau sudah terbit dan muncul reaksi atas berita itu, redaksi dengan mudah mengetahui motifnya,” jelas Dahlan.
Agar wartawan Jawa Pos tidak “kentut” sembarangan, Dahlan membuat kampanye “Wartawan Jawa Pos Bebas Angpao”. Kampanye itu sudah dilakukan sejak tahun 1991 dan terus disosialisasikan sampai sekarang. Dalam kampanye itu, masyarakat diminta melaporkan bila ada wartawan “Jawa Pos” yang menawarkan jasa “calo” atau menjadi “penodong” melalui pemberitaan dengan tujuan memperoleh “angpao”.
Sejak kampanye itu digencarkan, masyarakat yang merasa tidak puas dengan pemberitaan “Jawa Pos” mulai berani membuat pengaduan. Ada yang melalui telepon, ada yang berkirim surat, ada pula yang datang ke kantor redaksi.
Pengaduan yang masuk ternyata tidak melulu karena uang. Ada pula pengaduan yang disebabkan informasi yang tidak berimbang dan menyesatkan. Semua pengaduan itu ditindaklanjuti oleh redaktur senior yang duduk di dewan redaksi. Ada yang benar, ada pula yang tidak terbukti.
Puaskah Dahlan? Belum. Pada tahun 1992, Dahlan memprakarsai pembentukan Dewan Pembaca. “Jawa Pos” adalah koran pertama yang melibatkan pembacanya untuk mengontrol isi berita di Indonesia. Langkah ini kemudian diikuti anak perusahaan “Jawa Pos” yang terbit di Jakarta, yakni “Rakyat Merdeka” pada tahun 2004.
Dewan ini beranggotakan sejumlah pembaca yang mewakili berbagai profesi. Ada praktisi hukum, pedagang, dosen, tukang becak, mahasiswa dan pelajar. Setiap anggota dewan pembaca bertugas beberapa bulan, sebelum diganti pembaca lainnya.
Seminggu sekali, Dewan Pembaca melakukan rapat di kantor “Jawa Pos”, dipimpin Dahlan dan diikuti semua redaktur. Saya sebagai wartawan beberapa kali ditugaskan mengikuti sidang, untuk memberitakan apa saja yang dibahas dan direkomendasikan Dewan Pembaca, dalam kolom setengah halaman koran.
Dari pengaduan salah ketik hingga prilaku wartawan di lapangan, semua dibahas dalam rapat tersebut. “Semua hasil rapat dan rekomendasi Dewan Pembaca harus diterbitkan dalam berita besok pagi, meskipun itu menyakitkan,” pesan Dahlan.
Dewan Pembaca inil sekarang menjadi sebuah lembaga pengontrol profesi wartawan “Jawa Pos” dengan nama “Ombudsman”. Wewenang Ombudsman bahkan jauh lebih besar dibanding Dewan Pembaca. Bila Dewan Pembaca hanya bisa membuat rekomendasi, Ombudsman bahkan bisa menetapkan jenis sanksi atau hukuman yang harus dijalankan manajemen “Jawa Pos” kepada wartawannya.
Ombudsman “Jawa Pos” pernah memberi sanksi kepada manajemen Jawa Pos untuk memasang iklan permintaan maaf kepada pembaca hingga setengah halaman karena berita yang diturunkannya. Ombudman juga memutuskan sanksi pemberhentian karena pelanggaran wartawan yang menulis berita itu.
“Wartawan bukan manusia yang tidak bisa salah. Media yang baik adalah media yang mau mengakui kalau salah dan mau meminta maaf atas kesalahannya,” komentar Dahlan menanggapi keputusan Ombudsman.
Menjaga politik redaksi, bukan main sulitnya. Menjaga kepercayaan pembaca, bukan main mahalnya. Dari situlah saya belajar akal sehat Dahlan Iskan, untuk tidak kentut sembarangan.

Joko Intarto, sebuah pengalaman pribadi
Follow me @intartojoko

Catatan Sang Pemberontak

Tingkat SDM, Bontang Post Magangkan Wartawan—Judul

Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) reporter Bontang Post terus dilakukan. Salah satunya, dengan mengirim salah satu reporter utama media lokal konten itu ikut program pemagangan garapan Kaltim Post bersama 6 media lain juga group Kaltim Post di kantor Indopos Jakarta Pusat. Dalam proses belajar itu, para reporter tidak sekadar mendapat pengetahuan teori dari para profesional jurnalis. Tapi, mental para reporter pun ditempa. Mengingat, medan dan lingkup kerja kali ini lebih luas dan lebih keras dibanding tempat asal masing-masing media.
 
IMRAN IBNU, Jakarta
 
Untuk informasi, pemilihan reporter yang berangkat adalah hasil kesepakatan para petinggi redaksi Bontang Post dan disetujui General Manager (GM) Bontang Post, Agus Susanto beberapa waktu lalu. Lantas diperoleh keputusan mengirim Imran Ibnu salah satu reporter utama Bontang Post pengelola halaman Bessai Berinta untuk ikut program magang selama 3 bulan.
Berdasarkan waktu yang disepakati, Jumat (27/9) lalu, dia bersama rombongan terdiri atas peserta magang dari Kaltim Pos Samarinda ketua Panitia magang Thomas yang akan mengawal peserta hingga batas waktu tertentu menuju kota tujuan. Tepatnya pukul 12.50 Wita lalu dari Bandara Sepinggan Balikpapan dan tiba di Bandara Soekarno Hatta Jakarta sekira pukul17.30 WIB.
Tiba di Jakarta, peserta magang berjumlah 6 orang dari 6 koran berbeda, berkunjung ke Kantor JPNN dan Kantor Indopos. Tujuannya, memperkenalkan para peserta dengan awak redaksi kantor media terpercaya itu. Dalam kunjungan tersebut, media ini disambut Arianto redaktur Indopos. Dari kunjungan itu, masing-masing peserta diminta membeberkan identitas  serta informasi mengenai koran yang diwakilinya. Namun, obrolan itu tidak berlangsung lama. Mengingat, waktu telah menunjukan pukul 22.30 WIB. Tak ayal, rombongan pun memohon diri menuju rumah yang telah disediakan Kaltim Post bagi peserta untuk berisitirahat melepas lelah setelah menempuh perjalanan panjang.
Terkait program pemagangan tersebut, Thomas Ketua Panitia Pemagangan itu menjelaskan, program tersebut adalah program rutin digelar Kaltim Post tiap tahunnya. Meskipun dua tahun terakhir sempat vakum lantaran satu sebab. Namun, 2013 ini pihaknya kembali membuka pemagangan itu. Dengan harapan, kualitas SDM awak media yang berada di bawah binaan Kaltim Post semakin kuat dan berkualitas.
Dia menjelaskan, jumlah peserta awal ditargetkan mengirimkan perwakilan yakni 10 media koran. Namun, dalam pelaksanaannya, hanya ada 6 media koran. Masing-masing dari Radar Sampit, Kalteng Post, Kaltara Post, Berau Post, Kaltim Post, termasuk Bontang Post terdaftar sebagai peserta. Informasi diperoleh dari masing-masing media yang tidak mengirimkan perwakilan lantaran keterbasan Sumber Daya Manusia (SDM).
 “Jumlah media koran yang harusnya ikut pemagangan ini ada 10. Tapi, karena ada beberapa kendala salah satunya keterbasan SDM, yang mengirim perwakilan cuma 6 media,” jelas Thomas pada media ini.
Diterangkannya, dalam program pemagangan itu, banyak hal yang diperoleh peserta selama  3 bulan ke depan terhitung sejak Jumat (27/9) lalu. Mulai dari pengetahuan cara menulis, menghimpun informasi, hingga keterampilan lain yang menjadi obsesi sang peserta. Sumber informasi itu pun beragam, bisa ditemukan dari para jurnalis senior Indopos, JPNN, sesama peserta dari media berbeda yang tentu memiliki karakter dan kelebihan tersendiri.
Terpenting, dalam program tersebut, mental peserta akan terbentuk. Pasalnya, lanjut dia menjelaskan, para peserta nantinya menjalani proses liputan di Jakarta. Diketahui memiliki keragaman karakter manusia serta hal dinamis lain. Begitupula dengan narasumber yang akan ditemui saat liputan, bukan lagi kelas kepala dinas, atau kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lain. Melainkan, langsung ke pembuat kebijakan seperti menteri. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, peserta akan bisa mewawancarai presiden.
Faktor penting lain yang akan membentuk mental peserta. Yakni, medan liputan lebih luas. Dengan tantangan macet pasti ditemui para peserta. Dari kondisi itu, mereka pun dituntunt bekerja dengan disiplin tinggi. Kemungkinan tidak ditemui di media asal masing-masing. Dengan begitu, ketika mereka kembali ke media masing-masing. Diharapkan, bisa membawa perubahan positif. Lantas menularkan budaya kerja positif ditemui di pemagangan itu.  
Ya, tujuan pemagangan ini, memang untuk memperkuat Kaltim Post beserta groupnya. Khususnya penempaan mental wartawan. Karena, pada hakekatnya. Mental adalah hal utama dibutuhkan wartawan. Dengan harapan, bisa ditularkan ke rekan kerja di media masing-masing,” ujarnya. (bersambung)

Artikel

Kopi Terakhir di Kebagusan
Susilo Bambang Yudhoyono unggul dalam pemilu presiden putaran II.
Di Kebagusan, Taufiq Kiemas meneguk kopi terakhirnya.
KEBAGUSAN, Jakarta Selatan, 20 September 2004, 14.30 WIB. Dua
telepon genggam Nokia Communicator Taufiq Kiemas nyaris tak pernah
berhenti berteriak. Yang satu masih online, yang lain sudah berdering-dering.
“Bagaimana perkembangannya? Kita kalah? Belum, kan? Tolong pantau
terus. Maafkan kakakmu ini kalau terlalu cerewet,” ujar suami kandidat
presiden Megawati Soekarnoputri melalui kabel handsfree yang menempel
di telinga. Panas siang melanda Jakarta. Taufiq gerah. Ia sibuk memantau
penghitungan suara.
Televisi 21 inci yang mengabarkan hasil pantauan coblosan tak lagi
menjadi perhatian pria berbadan lebar itu. Para tamu dari Koalisi
Kebangsaan--aliansi partai yang menyokong Megawati--sudah lama pulang.
Juru tinta pun sudah berlalu satu-satu.
Yang tertinggal hanya Wakil Sekjen PDIP Pramono Anung, bekas
Direktur TV7 August Parengkuan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Rini Soewandi dan suaminya, Didi Soewandi, serta Kwik Kian Gie dan
Menteri BUMN Laksamana Sukardi. Ada pula Guruh Sukarno Putra dan
Sukmawati Soekarnoputri. Semua sibuk dengan telepon genggamnya
masing-masing.
Mega tak ada. Hari itu ia mengaku sedang tidak sehat. Sambil
menyeka hidungnya dengan tisu, ia sebentar menyapa Tempo. “Saya agak
meriang. Ntar kamu malah ketularan, lho,” katanya. Lalu Mega masuk ke
dalam.
Tak lama kemudian Guruh dan Sukma beranjak keluar.
“Mas Taufiq, pulang dulu,” kata Sukma. Yang disapa mengiyakan.
“Ruh, kamu mau ke mana? Di sini ajalah.”
“Pulang dulu, Mas. Ada yang harus dikerjakan.”
Taufiq hanya bisa mengangguk. Dering telepon kembali berbunyi.
Hasil penghitungan suara memang membuat Taufiq risau. Hanya
delapan jam setelah tempat-tempat pemungutan suara (TPS) resmi dibuka
untuk umum, hasil penghitungan cepat (quick count) Lembaga Penelitian,
Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) sudah memberi
kabar yang menampar kubu Megawati. Ia kalah dari Susilo Bambang
Yudhoyono dengan perbandingan 38,8 persen berbanding 61,2 persen. Hasil
serupa diperoleh dari survei astaga.com, Polling Center, Indonesia Media
Technologies (IMT), dan Forum ITB 73 (Fortuga). Lembaga yang terakhir
mengambil sampel di 4.000 TPS di seluruh Indonesia.
Taufiq menyeruput kopi instan dari cangkirnya. Ia kembali bicara
melalui ponselnya. “Jadi Lampung oke, ya?” ujarnya kepada seseorang di
ujung telepon. Sesaat kemudian, Pram, yang termenung di ujung teras,
disapanya. “Pram, ke sini dong. Berbagilah. Semua di sini juga tegang,”
katanya setengah berteriak.
Pram bangkit mendekati Kiemas.
“Gimana perkembangan? Jawa Timur dan Jawa Tengah piye?” tanya
Taufiq ke Pramono.
“Belum ada perkembangan, Mas. Masih fifty-fifty. Tapi di Blitar dan
Kediri kita dapet.”
Taufiq kembali memencet-mencet Communicator-nya.
Sebentar kemudian ia tersambung dengan Arif Wibowo, Wakil Kepala
Biro Proses Pemantauan Pemilu Mega-Hasyim. Lalu guntur itu kembali
menderu: quick count yang dibuat kubu Mega mengkonfirmasikan
kekalahan itu. Dari 2.500 sampel TPS yang mereka pantau, Mega menguasai
46,6 persen, sedangkan Susilo menang dengan 53,4 persen. Taufiq terdiam.
********
Cikeas, Bogor, 20 September 2004, 17.00 WIB. Rumah besar di
kompleks perumahan mewah itu ibarat pasar malam. Ratusan orang, malah
mungkin lebih dari seribu orang, menyemut di sekitar rumah Susilo
Bambang Yudhoyono. Bekas pejabat, aktivis LSM, politisi terkenal dan
tidak terkenal, juga rakyat jelata tumplek-blek merayakan kegembiraan
bersama calon presiden Susilo.
Di pendopo besar di dekat rumah, Susilo menyaksikan penghitungan
suara cepat melalui layar besar yang menyiarkan Metro TV. Di sebelah
Susilo, tampak Direktur Utama Metro TV, Surya Paloh. SBY--begitu Susilo
biasa disapa--mengaku tenang menunggu hasil penghitungan suara.
“Semalam Bapak tidur cepat, tidak seperti biasanya,” kata Kristiani
Herrawati, istri SBY. “Dibanding putaran pertama, saat ini saya lebih
santai,” kata Yudhoyono sambil tertawa.
Optimisme tampak membayang di wajah bekas Menteri Koordinator
Politik dan Keamanan itu. Saat jumpa pers, Yudhoyono mengaku tak berat
untuk mendapatkan 55-60 persen suara. Keyakinan itu diperolehnya dari
beberapa kali kunjungan ke daerah dan hasil beberapa jajak pendapat.
Sesaat kemudian ia bercanda dengan wartawan tentang kesamaan
dengan Megawati: sama-sama doyan cabe. “Dalam rapat kabinet, tidak ada
seorang menteri pun yang dapat menyaingi Megawati dalam makan cabe
kecuali saya,” tuturnya sembari tersenyum.
Sekitar pukul 21.40, Yudhoyono didampingi calon wakil presiden
Jusuf Kalla menggelar konferensi pers--acara yang semula dijadwalkan pagi
hari. “Pidato ini adalah bentuk pernyataan syukur,” ujarnya.
Yudhoyono menolak difoto bersama Kalla. “Wah, jangan. Nanti bisabisa
diartikan saya sudah menyatakan menang,” katanya. Kalla, yang datang
bersama istrinya, tak menyampaikan sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum
tanpa henti.
Soal kabinet, SBY cuma berkata pendek. Menteri Luar Negeri katanya
tetap akan dipercayakan pada Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri saat
ini. Yang lainnya, “Ada dua atau tiga menteri yang mungkin akan kami ajak
bergabung dalam kabinet yang baru,” katanya. Menurut Rachmat Witoelar
dari tim sukses SBY, kemungkinan beberapa nama akan dibocorkan
Yudhoyono dalam satu-dua hari ini agar ditanggapi publik. “Soal siapa
mereka, tanya langsung ke Pak Yudhoyono,” ujarnya.
Di luar, para tamu makin menyemut. Tampak di antaranya pengusaha
Hartati Murdaya, politisi PPP Aisyah Amini, mantan Direktur Utama Bank
BNI Saifuddien Hasan, juga politisi Golkar Idrus Marham. Idrus butuh
waktu lama untuk menelepon kanan-kiri supaya bisa masuk ke ruang utama
kediaman Susilo. “Biasalah, kalau lampu sedang terang, pasti banyak laron
berdatangan,” kata Ketua Umum Partai Demokrat, Subur Budi Santoso.
******
Tak sulit menduga bahwa Susilo Bambang akan unggul dalam putaran
kedua pemilu ini. Jajak pendapat yang dilakukan International Foundation
Election Systems (IFES) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan
Megawati tak pernah mampu mengejar popularitas SBY. Susilo berkutat di
angka 60 persen dan Mega hanya bisa mendapat separuhnya (lihat
infografik).
Padahal sebelumnya Bambang nyaris gagal menjadi calon presiden. Ia
memang disebut-sebut bakal maju sebagai kandidat presiden, tapi berkalikali
ia menampik dikaitkan dengan Partai Demokrat--partai yang
mencalonkannya ke pertandingan. Bahkan, saat partai itu didirikan, SBY tak
datang. Ia sungkan: bagaimanapun, ia adalah menteri dalam kabinet Mega.
Belakangan, ketika konfliknya dengan Taufiq Kiemas memuncak,
SBY memutuskan keluar dari kabinet. Tekadnya tak sia-sia, Demokrat
meraih delapan persen suara, lebih dari cukup untuk menyorongkannya ke
pemilihan presiden.
Setelah itu, SBY melaju. Dalam pemilu putaran pertama, ia unggul
dengan 33,59 persen suara. Koalisi Kebangsaan, yang dibuat Megawati
dengan Golkar, PPP, dan beberapa partai kecil lainnya, nyaris tak mampu
membendung sang Jenderal.
Golkar agaknya kehilangan mesin politiknya. Semula Akbar
memprediksi akan menang di Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten,
Yogyakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung. “Jawa Barat
agak berat karena persaingan dengan Yudhoyono akan ketat,” ujarnya. Di
Indonesia Timur, kecuali Sulawesi Selatan, Akbar pun optimistis menang.
“Di Kupang dan Sul-Ut, kami optimistis,” ujarnya. Di Papua, Sumatera
Barat, dan Aceh menurut dia masih berimbang.
Tapi, tengoklah apa yang terjadi. Hingga Selasa siang, pasangan
Yudhoyono-Kalla unggul di semua provinsi kecuali Bali, Nusa Tenggara
Timur, dan Maluku. Kawasan yang dalam putaran pertama menjadi basis
Amien Rais seperti Aceh dan Sumatera Barat juga disapu bersih oleh SBYKalla.
DKI Jakarta, yang diduga akan dipenuhi warga golput, ternyata juga
dikuasai Susilo. Jawa Timur, kawasan yang secara tradisional dikuasai
PDIP--seperti Surabaya, Batu, Kediri, Madiun, dan Malang--kini di bawah
ketiak SBY. Padahal Malang adalah tempat berdirinya Pesantren Al-Hikam
milik calon wakil presiden Hasyim Muzadi.
Koalisi Kebangsaan di Jawa Timur rupanya tidak efektif. Kebanyakan
masyarakat desa tidak tahu bahwa di tingkat elite PDIP berkoalisi dengan
Golkar. Kelemahan ini ditambah dengan retaknya hubungan anggota DPRD
Jawa Timur dari PDIP dan Golkar saat rebutan kursi Ketua DPRD provinsi
itu pekan lalu. Mengetahui elite PDIP Jawa Timur setengah hati mendukung
Ridwan Hisjam sebagai Ketua DPRD Ja-Tim dari Partai Golkar, elite Golkar
Ja-Tim pun setengah hati dalam mengarahkan dukungan kepada Mega.
Terlalu pagi memang bagi kubu Megawati untuk menyerah. Secara
resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru akan mengumumkan hasil
pemilu pada 5 Oktober nanti. "Masih terlalu prematur untuk mengklaim
kemenangan atau mengklaim ketidakmenangan padahal penghitungan baru
lima persen," kata Sutradara Ginting dari Mega Center. Ginting adalah
anggota Partai Keadilan dan Persatuan (PKPI) yang pindah ke PDI
Perjuangan. Sebelum di PKPI, ia adalah aktivis Golkar. Pidato
“kemenangan” SBY pun kabarnya dibahas dalam rapat Koalisi Kebangsaan
di rumah Megawati.
Menurut Sekjen PDI Perjuangan Sutjipto, Megawati tidak marah
ataupun kecewa dengan perolehan suara yang jauh di bawah Yudhoyono.
"Ini kan belum separuh, kok pada ribut. Kok, maunya ribut terus, sih," kata
Sutjipto menirukan ucapan Megawati.
Motor Koalisi Kebangsaan, Akbar Tandjung, mengaku belum kalah.
“Kita tunggu dua-tiga hari ini,” katanya. Tapi, seandainya hasil
penghitungan quick count ini berlangsung tetap, ia menandaskan bahwa
koalisi tidak akan bubar, dan akan terus dipertahankan di parlemen, DPR
pusat dan daerah. "Pokoknya, Koalisi Kebangsaan akan menjadi kekuatan
penyeimbang bagi pemerintah," ujarnya.
*******
Ketika matahari mulai condong ke barat, suasana di Kebagusan mulai
lengang. Televisi 21 inci di beranda masih belum berganti saluran, meski tak
lagi menayangkan soal pemilu melainkan talk show tentang ketoprak.
Megawati tetap di rumah.
Didi Soewandi bangkit dari duduknya.
“Mas Didi mau ngecek ke mana?” tanya Taufiq.
“Jawa Timur.”
Para tetamu pun pelan-pelan beranjak. Kwik berpamitan pada Taufiq.
Laksamana menyusul. Lalu Rini Soewandi.
“Laks, mau ke mana?” tanya Taufiq. “Ngapain buru-buru. Di sini saja,
nunggu hasil di sini. Kalau di rumah ntar susah tidur, lho,” kata Taufiq
bercanda. Laksamana tersenyum. Bertahan sebentar, ia kemudian
meninggalkan tempat. Putri Mega, Puan Maharani, mewakili ibunya
mengantarkan sang tamu ke mobil. Di halaman, empat cucu Mega sibuk
berlarian di halaman berumput.
Malam turun. Lampu beranda mulai dinyalakan. Para pelayan
membereskan cangkir dan piring-piring kotor serta melipat kursi dan taplak
meja. Masih dengan telepon seluler yang tak henti mengirim pesan-pesan
pendek, Taufiq bangkit dari kursinya mendekati perancang mode Samuel
Watimena dan beberapa rekan lainnya yang sedang asyik makan bakpau. Ia
bercanda kecil dengan senyum tertahan. Taufiq Kiemas berniat menyeruput
lagi kopinya. Tapi cangkir itu telah lama tandas. Di luar, malam terasa gelap.
Teramat gelap.
Hanibal W.Y. Wijayanta, Widiarsi Agustina, Y. Tomi Aryanto,
Yura Syahrul, Koresponden Daerah


Selasa, 01 Oktober 2013

Kisah Inspiratif


“Kisah Sukses Pramono, dari Office Boy menjadi Milyader”

Mencapai kesuksesan, tak luput dari perjuangan yang menguras keringat dan air mata. Namun, ketika sukses telah dicapai, kenangan pahit itu berubah menjadi indah dan  menyenangkan. Hal itulah yang dialami Pramono sang miliarder muda, yang memulai karirnya sebagai seorang office boy di salah satu perusahaan swasta.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Perjalanan hidup Pramono (34) mirip cerita sinetron. Belasan tahun lalu, ketika pria kelahiran Madiun ini mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, dia memulai karir sebagai office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu beralih menjadi pedagang ayam bakar di emperan jalan. Ternyata sukses. Kini Pramono sudah menjadi miliarder yang memiliki banyak usaha. Siapa yang tidak ngiler?
Ayah satu anak yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. Dia meyakini, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin sukses mesti lewat perjuangan.
“Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur,” ujar Pramono.
Awalnya, suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang.
Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit, dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00 wita. Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.
“Tapi namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Habis enggak habis tetap harus tutup. Lalu, jam 14.00 wita diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood,” tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.
Pria yang menamatkan S3 (maksudnya tamat SD, SMP, SMA, Red.) di Madiun ini belakangan akrab dengan laptop karena dia menjadi salah seorang mentor nasional dari Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.
Menurut Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan karena dia tahu akan sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak macho dan keren.
“Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu enggak punya tabungan, sudah banyak di bank,” ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1 miliar.
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat menginspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan, waktu luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.
Pramono benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya.
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dari perusahaan tersebut dan memulai usaha berjualan gorengan keliling di seputar wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi-laba. Yang terpenting adalah melakukan action.
“Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzet baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari,” ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk beli gerobak dan peralatan lain, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya berjualan ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.
“Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Tapi, saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya dirt,” tegas Pramono.
Terlepas dari peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam. “Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya,” pungkasnya. (in/net)

Pacaran Dalam Islam Menurut Anda ?





Pacaran Dalam Islam Menurut Anda ?

Cinta memang fitrah manusia yang wajar terjadi, dan mesti dimiliki tiap manusia yang beriman. Tapi, kebanyakan anak muda salah menerjemahkan cinta hanya kepada lawan jenis yang sebayanya saja. Bahkan, kerap kali diartikan, cinta tumbuh atas dorongan seksual. Tapi mereka lupa, karena cinta tak hanya kepada lawan jenis karena terdorong seksual, cinta pun menaungi keluarga. Cinta kepada orang tua, kakak, adik dan sebagainya.
Lalu muncul pertanyaan, bolehkah pacaran dalam Islam? Bahkan sudah banyak hadis yang diriwayatkan untuk membahas ini, dan banyak pula buku-buku diterbitkan hanya untuk membahas pacaran dalam Islam. Lalu bagaimana? Apakah boleh pacaran dalam Islam?

Pacaran Dalam Islam? Memang Boleh!

Jika kita tilik dari segi bahasa, darimana sih kata ‘pacaran’? Ternyata akan kita dapati kata tersebut berasal dari bahasa Jawa yang kata dasarnya ‘pacar’. Pacar adalah suatu jenis bunga berwarna tertentu yang biasanya dipakai/dihancurkan untuk mewarnai kuku pada wanita yang sedang menikah untuk menyambut suaminya pada malam pertamanya. Tapi kita tidak akan membahas ‘pacaran’yang ini.
Dan pacaran yang kita dapati saat ini adalah bermakna memadu cinta dari lawan jenis, saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan melakukan kegiatan layaknya orang yang saling mencinta, seperti gandengan tangan, berdua-duaan. Bagaimana hukum pacaran dalam Islam? Ya, sesuai dengan judul artikel ini : memang boleh! tapi dengan syarat, yaitu dengan dihalalkan terlebih dahulu hubungan mereka dengan cara pernikahan. Pacaran dalam Islam itu sangat dianjurkan terutama setelah halal. Hukum pacaran dalam Islam akan menjadi haram apabila dilakukan sebelum menikah. Sesuai dengan beberapa hadis
“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa : 32]
Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia berdua-duaan dengan perempuan yang tidak ada bersamanya seorang muhrimnya karena yang ketiganya di waktu itu adalah setan.”
“Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ar-Ruyani di dalam kitab Musnad-nya (227/2)
Nah, sekedar berdua-duaan saja atau menyentuh saja tidak boleh, apalagi pacaran sebeulum halalnya? Bisa jadi muncul sebuah pertanyaan, saya sudah cinta banget, gimana nih? Itu simpel saja, yaitu halalkan hubungan dengan menikah. Apa yang menahanmu dari sunah rasulallah yang sangat disarankan ini. Soal rezeki? Menyikapi soal rezeki yang dirasa tidak cukup untuk kehidupan rumah tangga ini, Ippho Santosa memberikan perumpamaan.
 “Hidup sendiri-sendiri saja cukup rezekinya, bagaimana jika dua rezeki digabungkan (menikah, Red.), tentu lebih besar kan?. Menikah itu meluaskan rezeki,” kata Ippho Santosa.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32) (net)