Minggu, 01 Desember 2013

Hilang Selama 8 Hari


Diajak ‘Jalan’ Makhluk Ghaib, Lapor Polisi dan Paranormal

RAJES Octavian, putra pasangan  Heri Sutrisno dan Heny Sunarti hilang sejak Jumat (10/5) lalu. Padahal keduanya tidak merasa ada hal yang bisa memicu anaknya pergi meninggalkan rumah. Oleh karena itu, berbagai upaya pun dilakukan agar anaknya ditemukan. Mulai dari melaporkan hal itu ke kepolisian hingga paranormal.
Saat media ini berkunjung ke Rumah Rajes di Jalan Kuburan RT 13 Kelurahan Lhoktuan. Media ini disambut Heny Sunarti sang ibu ditemani kedua anaknya yang lain. Saat ditanyakan kronologis hilangnya sang putra, raut wajah sedih penuh kecemasan mulai tergambar di raut wajah perempuan setinggi 170 sentimeter itu.
Lalu, mulai menjelaskan duduk perkaranya. Kata dia, Rajes telah hilang sejak Jumat (10/5) lalu. Terakhir kali dia meminta Rajes membeli telur di salah satu tokoh untuk dibuat kue. Nah, setelah dia pulang ke rumah bersama pesanannya. Rajes lantas meminta izin bermain bersama teman. Namun, hingga senja, Rajes tak kunjung pulang ke rumah.
Saat ditanyakan hal yang mungkin memicu kepergian sang anak, dia mengaku tidak tahu pasti. Meski begitu, jauh hari Rajes memang sempat mengeluhkan postur tubuh yang tak sesuai dengan usia dan statusnya yang masih pelajar Sekolah Dasar (SD).
“Anak saya sempat mengeluh karena badannya yang lebih besar dari teman-teman sekolahnya tidak cocok dengan statusnya yang masih kelas 4 SD. Katanya, dia malu sekolah lagi karena sering diejek temannya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
Mestinya, saat ini Rajes sudah kelas 1 SMP. Tapi karena pernah tinggal kelas, sekarang dia tetap di bangku SD Kelas 4 di usianya yang ke-14.
Menyikapi keluhan itu, dia lantas memberi semangat kepada Rajes. Bahwa jangan sampai belajar Rajes turun gara-gara usianya tidak sesuai dengan statusnya sebagai pelajar SD.
Bahkan, dia sempat mengancam, jika terus mengeluhkan kondisi itu, akan dilaporkan ke sang ayah (Heri Sutrisno) agar dimarahi.
“Tapi tujuan ancaman itu, supaya anak saya tidak mengeluh dan minder lagi,” sambungnya.
Sejak kepergian Rajes, kabar terakhir dia perolah dari teman suaminya. Bahwa, Rajes terlihat pada sebuah rumah di Simpang Sangatta, Desa Teluk Pandan Kecamatan Teluk Pandan.
“Waktu ditanyakan, kata Rajes, dia lagi main di rumah temen. Karena tidak tahu masalahanya, makanya langsung ditinggal . Karena, mungkin enggak enak kalau disuruh pulang,” bebernya.
Tiba-tiba, pembicaraan kami terputus. Karena saat itu ayah Rajes (Heri Sutrisno) pulang dan lantas bergabung.
Heri mengaku sangat terpukul dengan perginya Rajes dari rumah. Meskipun dia sendiri tidak tahu pemicu kepergian anaknya. Oleh sebab itu, saat ini dia tengah disibukkan mengurus pencarian Rajes. Merujuk pada informasi yang diperoleh dari warga Simpang Sangatta yang mengaku melihat keberadaan anak itu di hari kepergiannya.
“Saya ke Simpang Sangatta. Lalu kata orang di sana, anak saya sempat berteduh di pos ojek tepi jala raya. Kemudian, anak saya dijemput 2 pria dan 1 wanita pakai motor,” kisahnya.
Lalu, dia pun mengajak istrinya mencari di Desa Teluk pandan, Kandolo, Bukit Pelangi, Lojanan, hingga Sanga-Sanga tempat yang mungkin dilalui oknum yang membawa anaknya. Namun berujung buntu.
Tak patah arang, dia lantas melaporkan perihal hilangnya sang anak ke Pos polisi (Pospol) Teluk Pandan hingga di Polsek Sangatta.
Namun karena kabar baik tak kunjung datang, dia lantas beralih dan meminta bantuan paranormal. Hal itu berdasarkan saran beberapa warga yang ditemui saat mencari Rajes. Alhasil, jawaban pun diperoleh. Kata paranormal yang ditemui, Rajes sedang diajak jalan-jalan oleh sejumlah orang yang tidak bermaksud buruk.
“Kata dukunnya, saya tidak perlu khawatir. Karena anak saya tidak akan apa-apa. Lagi diajak jalan-jalan. Bahkan, anak saya juga dikasih makan yang enak-enak di tempat itu,” ujarnya.
Tak puas dengan jawaban itu, dia lantas perkunjung ke 2 paranormal lain.  Namun, jawaban serupa justru diperolehnya. “Jadi mau enggak mau saya percaya. Meskipun sebelumnya ragu,” bebernya.
Namun demi kebenaran, dia kembali melanjutkan perncarian. Tapi, kali ini dipusatkan di Bontang, bahkan jaringan jejaring sosial di internet pun diberdayakan.
Upaya tesebut akhirnya membuahkan hasil. Respon pertama datang dari kawan Rajes yang juga sekolah di SD Nurul Iman Lhoktuan. Yang sempat melihat Rajes di Samarinda sekitar pukul 12.00 wita. Dan dipertegas dengan ciri fisik yang digambarkan dengan tepat oleh pemberi kabar.
“Yang bikin saya yakin, ciri-ciri anak saya sesuai dengan yang disebutkan. Yaitu, menggunakan kaos merah tanpa lengan, bercelana pendek warna Abu-Abu menggunakan sendal jepit warna Hijau,” kenangnya.
Namun hal aneh kembali terjadi. Tepatnya ketika kabar serupa datang dari warga Lhoktuan, yang melihat anaknya berjalan memasuki salah satu gang Lhoktuan di saat hari yang sama. Yakni antara pukul 12.00 hingga 13.00 wita. Ciri yang disebutkan pun sama persis dengan informasi yang menyebutkan Rajes terlihat di Samarinda.
“Mau enggak mau saya percaya. Dan saya yakin, ada yang salah dengan anak saya. Karena, terlihat di tempat berbeda namun di waktu yang sama jelas bukan keahlian manusia,” tuturnya.
Atas perkembangan mengejutkan itu, dia berharap bantuan dari seluruh lapisan masyakat khususnya orang-orang yang dikenalnya. Agar turut mendoakan sang anak agar segera ditemukan dan bisa berkumpul dengan keluarga tanpa kurang satu hal pun.
“Sambil menunggu informasi lebih lanjut. Saya tinggal berharap doa dari temen-temen supaya anak saya segera ditemukan dan berkumpul kembali,” pungkasnya. (Imran Ibnu/Bontang Post)

Sabtu, 30 November 2013

Penjelasan di Balik Kebungkaman




“Aku tidak butuh pacar cantik, seksi, tapi tak mampu menjaga kepercayaan . Kesetiaan, ketulusan cinta, dan pengertian, itulah yang kuinginkan. Karena rumah tangga yang ‘mawadoh warohmah’, hanya bisa diwujudkan dengan itu. Harus siap menjaga janji suci pernikahan dalam kondisi apapun,”
WEJANGAN itu merupakan prinsip hidupku dalam memilih pasangan. Karena bagiku, cantik, tampan, kaya, miskin dan sebagainya, satu hal yang tak abadi. Sebuah titipan yang kapanpun bisa dicabut oleh Allah SWT sang pemilik hidup. Berangkat dari prinsip itu, terbentuklah pribadi dingin, cuek, masa bodoh, tapii,,,,,,, tak pernah mempermainkan wanita.
Yah,,, bagi sebagian orang, sikap seperti itu bukan menjadi impian banyak wanita. Karena aku paham, seorang wanita butuh kasih sayang, perhatian yang continue, serta untaian kata gombal yang telah banyak menjerumuskan wanita dalam kehancuran. Tapi,,,,, aku adalah aku,,,, tidak mudah mengubah sebuah prinsip yang telah tertanam dan mendarah daging.
Minggu (11/7) ini, sebulan lebih hubunganku dengan wanita Widia. Wanita ini sempat membuatku jatuh cinta. Bahkan rencana melanjutkan cinta ini ke jenjang pernikahan telah kusematkan di dalam hati. Dan dia tahu akan hal itu. Tepatnya, di hari-hari awal jadian kami Juni lalu. Maklum, awal jadian merupakan momen terindah dalam sebuah hubungan. Kata orang, saat itu semua yang tampak di pelupuk mata, berwarna Merah Jambu. ‘Warna yang diisyaratkan sebagai kebahagiaan dan keceriaan’.
Saat itu, baik pria maupun wanita akan mengumbar janji terindah yang bisa dikeluarkan. Sehingga menumbuhkan keyakinan pada pasangan untuk memberikan seluruh cinta, kasih dan sayang tanpa sisa. Tapi, aku lebih yakin. Perasaan itu timbul hanya karena belum tahu banyak tentang siapa sang pacar. Dan bagaimana karakter si pacar. Sehingga, yang tampak adalah kebahagiaan, kebaikan, dan masa depan.
Berbeda, ketika telah melewati ‘momen berbunga’ itu. Maka akan tampak sifat asli yang jelas tidak ditampakan di hari awal jadian pada diri sang pacar. Berbagai kekurangan, pun bermunculan, yang jelas bukan menjadi impian bagi salah satu dari keduanya. Nah, bagi mereka yang larut dalam rayuan atau masa-masa ‘berbunga’ di awal jadian, merupakan tamparan keras. Karena, apa yang dia dapatkan jauh berbeda dari yang dijanjikan. Berbeda, ketika prinsip untuk siap menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing bukan sekadar bualan, maka itu bukan hal berat untuk diterima.
Inilah yang terjadi dalam hubunganku beberapa hari terakhir. Widia adalah pacarku yang beberapa hari terakhir merusak ketenangan batin dan menghapus warna di hari-hariku. Setelah berhasil melewati satu bulan sejak memutuskan bersama Juli 2013 lalu, dia mulai berbeda. Bahkan, terkesan menghindar untuk bertemu dan menjalin komunikasi denganku. Nah, jelas saja itu menjadi beban.
Sebenarnya, beban di sini bukanlah beban yang kebanyakan dirasakan oleh orang yang saling mencinta, sehidup semati, yang telah menyerahkan sebagian jiwanya bagi sang pacar, atau yang rela mati demi pacarnya. Tapi ini lebih kepada keinginan yang sebenarnya dari Widia. Karena, aku bukan pria yang mau diambangkan dan digantungkan. Dalam hal apapun itu. Termasuk asmara.
Aku hanya menginginkan kejelasan dari dia.  Bahkan, sempat kutegaskan kepadanya, jika sudah tak sanggup menjalani hidup denganku berpisah sepertinya hal yang tepat. Tapi, itu tidak direspon. Bahkan dia malah menjawab. “Ade bukan mau pisah. Ade hanya butuh waktu untuk tidak berhubungan dengan kamu saat ini. Sampai saat Ade tenang lagi,” itulah jawaban yang kuperoleh dari dia dua hari yang lalu.
Bagi sebagian orang yang tidak pernah menganggap sebuah hubungan itu penting, jelas bukan masalah. Karena, tidak ada pengorbanan, baik materi  maupun beban pikiran.  Bahkan, kondisi seperti itu adalah momen berharga yang mesti dimanfaatkan bagi orang yang berpikirian seperti itu.
Aku sempat mengobrolkan masalahku dengan seorang kawan. Kata kawanku,  “kalau memang dia mau seperti itu, kamu selingkuh aja. Toh, aku juga yakin kalau sudah seperti itu, dia tidak mengharapkan kamu lagi. Bahkan, besar kemungkinan dia punya pacar lagi,” kata temanku dengan mimik serius.
Awalnya, aku tidak menggubris saran itu, bahkan aku menilai jika itu adalah hasutan dan cobaan yang melanda hubungan kami. “Ah, itu belum tentu benar,,, sebelum ada bukti, kita enggak boleh menuduh seperti itu,” jawabku menimpali pernyataannya.
Tapi, kecurigaan itu makin nyata. Ketika selama seminggu lebih aku tidak mendapat kabar darinya. Jangankan untuk bertemu muka, mendapat pesan singkat saja tidak terkabul. Panggilan lewat telfon seluler yang hampir tiap menit, jam bahkan saat malam sebelum aku tidur, pasti menelfon dia. Tapi, lantas terputus lantaran nomor yang kutuju sedang sibuk. Aku tidak tahu pasti, apakah sibuk sebab diriject olehnya, atau karena sedang digunakan berkomunikasi dengan orang  lain. Tapi satu hal yang pasti. Jika Widia masih punya hati dan menganggapku berarti, pasti ada upaya untuk menjawab segudang pertanyaan yang kukirimkan beberapa hari terakhir.
Sampai akhirnya puncak kesabaranku tiba. Karena tidak mau bertemu, menjawab telfon, membalas SMS, maka aku tegaskan kepadanya satu pertanyaan sekaligus pernyataan. “Wid, kalau kamu memang masih menganggap aku pacarmu, kita ketemu di tempat biasa malam ini. Tapi kalau sudah tidak lagi, abaikan pesan ini,” kataku dalam sebuah pesan yang kukirim tepat pukul 20.00 Wita dari ponselku.
Selang beberapa menit, tiba-tiba pesan singkat itu terbalas. Setelah kubuka, benar, pesan dari Widia, “Ade bukannya tidak menganggap kk itu pacar. Tapi sekarang Ade masih belum siap ketemu kakak”
“Tapi kenapa?, harus ada penjelasannya dong. Jangan seperti ini, kita bukan anak kecil yang kasmaran”
“Bukannya apa kak. Tidak ada asap kalau gak ada api. Jadi, kalau kakak belum merasa tahu salah yang bikin aku begini, lebih baik jangan hubungin aku dulu”
Mendapat jawaban itu, aku lantas makin bingung sekaligus geram. Betapa tidak, aku bukanlah manusia yang bisa membaca hati orang lain. Di sisi lain, aku juga sadar bukan manusia sempurna. Jadi kesalahan adalah lumrah terjadi. Tapi yang tidak bisa kuterima, kenapa harus seperti ini?, aku diminta mereka-reka apa yang tidak aku tahu?.
“Yaudah, kakk ini bukan pesulap yang bisa membaca pikiran orang. Jadi, begini saja, kalau memang malam ini kita tidak bisa ketemu. Lebih baik kita putus aja! tolong dijawab”
Setelah menunggu beberapa lama, pesan singkat dari Widia pun kuterima, “ iya kak, Ade memang sudah tidak sanggup dengan sifat kakak yang cuek. Bahkan, tidak pernah cemburu ke ade.  Ade ngerasa, kalau tidak disayang sama kakak. Makanya, Ade menghindar selama ini. Tapi, kalau memang itu maunya kakak untuk putus, yaudah, Ade terima ! ”
Mendapat jawaban itu, awalnya aku cukup terkejut karena begitu tenangnya dia menanggapi perpisahan ini. Selain itu, alasan yang dia limpahkan sebagai alasan perpisahan ini hanya karena sikap cuek yang sejatinya bertujuan baik. Karena, bagiku, tidak ada gunanya mengekang pacar dan melarang bahkan membatasi sang pacar untuk berhubungan dengan orang lain. Tapi, kemudian akhirnya aku mengerti, bahwa ketika dia telah menyanggupi untuk berpisah, artinya memang sudah waktunya, dan dia bukan yang terbaik untukku. Begitupula sebaliknya, mungkin aku bukan yang terbaik untuk dia.
“Yaudah, kalau kita sepakat untuk berpisah, Kakak terima. Kakak hanya pesan sama ade. Jangan pernah memillih pasangan karena sesuatu yang tidak abadi. Pilih yang bisa jadi imam, dan punya agama serta menjalankan ibadah yang diwajibkan agamanya,”
“Iya kakak, kakak juga” jawab Widia mengakhiri obrolan singkat kami malam itu.
 Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi berhubungan. Baik secara langsung maupun lewat ponsel seperti yang biasa kami lakukan selama berpacaran.
Yahh,,,, perpisahan ini sebenarnya bukan hal yang kuharapkan. Tapi mau gimana lagi, jika itu sudah menjadi pilihan dia. Meski begitu aku  belum sepenuhnya percaya jika alasan dia putus hanya karena sikapku yang cuek. Bahkan, belakangan aku mulai mengenang kembali, pendapat yang disampaikan temanku beberapa waktu lalu. Yang mengatakan, kemungkinan Widia sudah selingkuh di belakangku. Namun tetap menerima bahwa perpisahan ini sudah tadir yang harus diterima.
Berselang beberpa minggu pasca perpisahan itu. Perlahan aku sudah mulai terbiasa hidup sendiri. Bahkan, sudah bisa melupakan dia. Hingga satu hari, saat aku pulang dari kantor, aku melihat secara langsung, Widia tampak mesra memeluk seorang pria di atas sepeda motor yang melaju kencang. Tampaknya, mereka telah lama akrab, hal itu terlihat dengan tidak adanya  jarak atara mereka. Sehingga untuk memeluk demikian erat menjadi hal wajar. Sejak saat itu, rasa penasarannku tiba-tiba kembali tumbuh untuk tahu lebih dalam tentang hubungan keduanya.
Keesokan harinya, aku memutuskan mengunjungi tempat kerja Widia. Tentunya setelah memastikan dia tidak ada di tempat itu. Lalu aku menayakan kepada salah seorang rekan kerjanya yang juga seorang wanita. Tentang pacar baru Widia. “Mbak, aku mau tanya boleh?”
“Iya mas,  tanya apa?,”
“Temannya di sini ada yang namanya Widia enggak?,”
“Iya mas, ada, ada apa yah mas dengan Widia?,”
“Enggak papa. Dia punya pacar enggak yah,”
“Hehe, ada mas namanya Rian. Emang kenapa mas, suka yah sama dia?,”
“Enggak kok mbak, mau tau aja. Mbak tahu enggak, sejak kapan mereka pacaran?,”
“Pacarannya sih belum lama mas, baru sekitar sebulan ini. Emang ada apa yah mas, kok pengen tau gitu soal Widia?,”
mendapat jawaban itu, aku lantas termenung. Jika mereka sudah bersama selama sebulan, berarti aku telah dibohongi selama ini.
“Mas,,, kok diem,, ada apa mas sama Widia?,”
“Enggak papa kok mba. Oke deh lw begitu, aku pamit dulu yaahh,,, makasih lohh,”
“Iya mas, sama-sama,” jawabnya sambil tersenyum
Setelah obrolan ini, akhirnya aku tahu jawaban sebenarnya kenapa Widia begitu mudah melepaskan diri dariku. Tentang sikapnya yang memutuskan komunikasi selama seminggu itu pun akhirnya terjawab. Bahwa, ternyata Widia sudah menjalin hubungan sejak saat kami masih bersama. Tepatnya saat masalah mulai sering menghampiri hubungan kami.
Setidaknya, dengan kejelasan ini, aku tidak lagi merasa bersalah. Karena, sebelumnya penyebab putusnya kami adalah sikapku yang cuek. Melaikan, dia telah menemukan pria lain yang mungkin menurutnya jauh lebih baik dari apa yang kumiliki.
Tapi setidaknya, kejadian itu semakin membuatku sadar. Bahwa di dunia ini tidaka ada yang abadi. Sehingga, jangan pernah terbuai terhadap satu kondisi yang menyenangkan. Sehingga terjebak untuk melakukan hal-hal yang berlebihan untuk menyenangkan sang pacar. Saya lebih yakin, bahwa kekasih sejati adalah dia yang siap menerima kelebihan terlebih kekurangan. Dan sanggup menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Karena, kepercayaan adalah harga mati di dalam hidupku. Ketika telah terjadi penghianatan atas hal itu. Tidak akan ada kesempatan kedua, ketiga, hingga kapanpun. (*)
(Imran Ibnu, Jakarta)
  

Kamis, 28 November 2013

Berjalan Dalam Kenangan




==Imran Ibnu, Jakarta==

Sekitar dua jam aku duduk termenung di atas bangku kayu kenangan yang selalu menemanik hari-hariku di masa lalu. Hemm,,,,suasananya masih sama seperti  8 tahun lalu, sejuk dan penuh kenangan. Perlahan,,, aku teringat kembali masa kecil yang menyimpan sejuta dendam. Ketika mengenang perlakuan para tetangga yang gemar merendahkan keluargaku karena hidup dalam kesusahan ekonomi. Saat itu, bisa dikatakan keluargaku jauh berbeda dengan kehidupan orang-orang di desa ini, akibatnya selalu menjadi tumbal atau kambing hitam ketika ada pencurian. Tuduhan, hinaan, dan cacian, bahkan menggeledah isi rumahku tanpa alasan jelas menjadi hal biasa dan wajar terjadi. Anggota keluargaku pun rata-rata mendapat giliran tertuduh mencuri oleh para tetangga. Kakaku yang ke-3 misalnya, dia dituduh mencuri telur ayam oleh tetangga samping rumah dengan alasan yang tak pernah dijelaskan sampai saat ini. Sementara adik perempuanku yang terakhir pun tidak luput dari tuduhan mencuri. Kali ini dia dituduh mencuri handphone tetangga yang tinggal tepat di depan rumah. Sementara aku sendiri pernah dituduh mencuri buku silat oleh kawan yang rata-rata berumur  4 sampai 6 tahun di atas usiaku saat itu. Kebetulan mereka adalah rekan berlatih saat mengikuti perguruan silat bernama Prisai Diri (PD). Tapi, lagi-lagi, bukti bahwa tuhan maha mengetahu, tuduhan itu kembali terbukti tidak benar.
Sebenarnya, dendam itu masih ada sampai sekarang. Tapi bentuknya sudah berbeda, cara yang aku gunakan untuk balas dendam bukan seperti yang biasa ditampilkan televisi dengan membunuh atau bertindak anarkis. Tapi membuktikan kepada mereka, bahwa bumi itu berputar, kadang di bawah dan kadang ada di atas. Sementara target yang ingin kucapai saat ini dan kemudian, bagaimana agar posisi keluargaku bisa berada di atas orang-orang yang sempat merendahkan dan menghinakan keluargaku karena kondisi ekonomi yang lemah.
Terbangun dari lamunanku, tiba-tiba pandanganku terarah pada sosok wanita 50 tahun-an yang masih tampak segar dengan senyum manis terus menggantung di bibir yang mulai keriput namun tetap segar dipandang mata. Dia ibuku Nurhayati. Kebetulan dia baru saja menyelesaikan pekerjaanya menjahit kain yang belum sempat kutanyakan peruntukannya. Sekitar 5 menit dia beridiri mematung di depan pintu sambil sesekali membelai rambutnya yang mulai memutih itu. Sekilas dia seperti orang bingung, atau tepatnya linglung dan mencoba mengingat sesuatu hal penting dan mesti dikerjakan.  “Nak , mana adikmu, tadi mama suruh beli benang tapi belum datang sampai sekarang,”ujarnya menyiratkan wajah khawatir bercampur gelisah.  “Gak lihat buu, tadi memang dia memang jalan. Tapi belum kembali, yudah, nanti saya lihat ke toko di depan mungkin dia masih di sana,” jawabku guna meredam kekhawatirannya.
Dia usianya yang semakin matang, Wanita itu makin tampak perkasa. Bahkan rasa hormat setinggi-tingginya akan kuberikan atas perjuangan yang telah ditempuh hingga aku bisa menjadi manusia beridentitas seperti saat ini. Apalagi ketika teringat perjuangan yang dia tempuh sepeninggalan ayahku Ibnu Hajar beberapa tahun lalu. Jelas menuntutnya berjuang dan bekerja ekstra keras agar bisa menopang keluarga kecil untuk tetap berdiri kokoh di tengah persaingan modernisasi. Tapi, aku tahu pasti, apa yang kumaksudkan dengan penghormatan tertinggi tadi, tidak begitu dia butuhkan. Karena, sebagai seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan dengan cinta dan kasih yang tulus, adalah hadiah terbesar dan penghormatan terbesar  saat anak bisa menjadi manusia bermanfaat dan minimal bisa menghidupi diri dan adik-adiknya. Itulah keistimewaan sosok ibu yang membesarkanku selama ini.
Mengakhiri lamunan, aku pun mencoba berkeliling rumah yang sampai saat ini masih jauh dari kata mewah, sambil mencari adik perempuanku yang  bungsu. Jelas sekali, sisi luar rumah itu, masih berupa tembok bata tanpa plester apalagi cat tembok seperti yang biasanya menempel di tembok rumah keluarga berada. Tak banyak berbeda, masih ada sungai, batang pisang, pohon kedondong, bahkan rerumputan tumbuh di sekitar rumah itu. Maklum, selama aku memiliki kehidupan sendiri sebagai jurnalis, terasa sangat sulit meluangkan waktu untuk sekadar membersihkan halaman atau pinggiran rumah dari pepohonan yang merusak pemadangan. Meskipun aku sadar, jika itu tetap akan ku lakukan. Karena tak ada lagi yang mau atau berkesempatan melakukan itu kecuali anak lelaki yang semasa hidupnya belum pernah terpisah lama dengan sang ibu. Yah, aku memang tidak pernah hidup terpisah dalam waktu lama dari ibu. Berbeda dengan saudara-sadariku yang rata-rata pernah mencicipi hidup terpisah hingga tahunan. Bahkan ada yang tinggal dengan kerabat hingga menikah. Sementara aku?, hanya sempat tinggal selama beberapa bulan dengan kakak perempuanku. Itu pun setelah dipaksa oleh kedua orang tua yang saat itu masih lengkap. Namun keadaan itu berubah setelah ayahku meninggal juga di rumah tempatku tinggal saat itu. Setelah kepergian sang ayah,  aku merasa sudah tidak betah lagi dengan kondisi rumah yang menurutku amat berbeda dengan rumah yang ditempati ibu. Meskipun jauh berbeda, tapi kebahagiaan tampaknya hanya bisa kuperoleh ketika aku tinggal di rumah yang di dalamnya tinggal saudara, saudari bersama jutaan kenangan masa lalu yang tercipta di dalam yang dibangun dengan peluh, darah dan air mata oleh kegigihan kedua orang tuaku.
Sampai akhirnya aku memutuskan pindah dari rumah kakak yang lebih mirip neraka. Lalu kembali ke ‘Rumahku Istanaku’ dan berkumpul dengan bidadari yang selalu siap memberikan senyum dan kebahagiaan di tangah keterbatasan. Dan sejak saat itu, aku semakin yakin, jika apa yang menurut kita baik dan indah, belum tentu menurut penilaian orang lain adalah sama. Karena, setiap pemikiran punya dasar dan alasan masing-masing. Begitupula dengan keluargaku, meskipun dengan segudang keterbatasan yang menurut orang lain kurang, tapi menurutku itu adalah hal yang paling sempurna dibanding apa yang bisa saya dapatkan dari orang lain yang dari segi fisik memiliki segalanya (*)